Kumpulan Puisi Menyentuh Hati Ala Guru Milenial
- Senin, 02 Desember 2019
- Administrator
- 0 komentar
Oleh : Filantropi Nola Rizky, M.Pd
Teriakan Nafas Kehidupan
Menggelitik raga
Membangun jiwa
Menyentuh syahdu
Melunturkan tangisan
Berteriak.. Berontak.. Menerjang..
Menggigit sakitnya kehidupan
Menusuk dalamnya mata
Menetes pengorbanan jiwa
Hayal
Cara Ku berbeda,
Menyentuhnya dengan senyuman
Menyentuhnya dengan sujud
Menyentuhnya dengan ketulusan
Bukan,
Bukan aku yang menjaga
Bukan aku yang melarang
Bukan aku yang menyiksa
Bukan api dan air yang tak bersama
Kita bersama,
Bersama dalam keheningan malam
Mendekati Nya dalam gelap
Menyentuh pagi didasar langkah...
Sahabat
Dulu pernah bersama
Dulu pernah berbagi cerita
Dulu pernah senyum berdua
Dulu pernah merangkul menggenggam jari
Kini kita berpisah...
Pulau tak disebrangi
Kota tak diterbangi
Rumput menjadi saksi
Kita di antara mereka
Sekarang kembali
Bersama dalam bahagia
Berdoa dalam sujud
Iri Ku Pada-Nya
Pada secangkir kopi
Ku sapa hari di keheningan malam
Malam di mana sunyi menyapa
Sendiri tanpa sentuhan angin
Aku iri pada rembulan
Saat kau melihatnya bersama bintang
Dan aku tetap sama
Sendiri dikegelapan gubuk
Ceritalah
Aku ingat..
Hari ini pernah bercerita
Cerita sebuah kisah
Dimana matahari menyinari Nya,
Mempertemukan kumbang dengan bunga Nya
Membawa angin ke sudut ranting
Menggoyahkan daun di hamparan pasir
Menjadi cerita di hantaran taman hijau
Kisah Ku
Haii...
Ku sapa pagi ku dengan sentuhan tangan
Menciumnya dan berdoa
Agar langkah ku bahagia dengan doa Mu...
Ma,
Ini aku, anak Mu yang meminta doa
Aku yakin Ridho Mu lah
Yang dapat membuka kehidupan pagi ini
Akan banyak cerita hari ini
Ku bisikkan nanti
Saat mata mulai mengantuk
Dan aku kembali mencium mu..
Roda-Roda
Berisik!!! Mengganggu,
Iya mereka...
Roda-roda tanpa arah
Bolak-balik.. Heii kalian!!!
Stop lah kalian...
Hamparan hitam itu akan terbangun
Karena kalian roda-roda
Kursi
Kursi itu sendiri
Sama seperti ku
Di sudut tanpa sentuhan
Di hadapan tanpa terlihat
Ia berkaki tak berjalan
Ia berkaki tak mengenal arah
Vas Bunga
Diatas meja itu,
Tak berteman tapi tak sendiri
Disentuh sakit tapi tak berduri
Dilihat cantik tapi tak indah
Hembusan angin menggoyahnya
Tapi tak jatuh memecahnya
Bergerak kekanan, kekiri
Oleh nafas yang melihatnya....
Lukisan Ku
Ia ada dihadapan ku
Tak bisa di sentuh
Oleh lapisan kulit
Begitu jauh,
Namun dekat
Terdengar hembusan angin
Berisik dan mengganggu ku
Banyak bayangan
Tanpa arah dan pandangan
Cahaya
Kenapa ia harus bersinar
Saat matahari telah menyapa
Apakah begitu gelap?
Saat cahaya ilahi begitu indah
Akankah mereka bersyukur
Nikmat tak terhingga telah diberi Nya....
Tersenyum Lah
Sudah tak muda lagi
Goresan pipi itu menggambarkan segalanya
Begitu letih langkahnya
Hingga akulah kaki mereka untuk berjalan
Ibu... Ayah...
Hingga nadi ku terlepas oleh raga
Aku tetap anak mu...
Yang akan selalu menggelitik pipi mu
Suara Itu
Saat ku buka pintu
Terduduk diam menikmati nafas
Ada suara ketenangan
Yang tak berhenti menggelitik telinga ku
Mereka sahabat ku dipagi hari
Mengirimkan senyuman disudut pipi
Tak terhingga bahagia ku pagi ini
Saat burung-burung itu menyapa matahari
Ayah
Kau ajarkan aku artinya perjuangan
Kau ajarkan aku artinya kesuksesan
Kata perkata kau ucapkan
Menjadikan aku wanita kuat tanpa keluhan
Kau begitu acuh akan perhatian
Tanpa ada sentuhan jiwa yang kau berikan
Hati mu tak pernah bohong
Akan impian dimasa depan
Kelak kerutan kusam wajah mu
Akan ku gantikan dengan cahaya kebahagiaan
Memeluk mu untuk pertama kalinya
Saat mimpi mu akan menjadi nyata